Kunjungi Museum di Mesir, Fadli Zon Soroti Potensi Ekonomi Budaya
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, di tengah kunjungan kerja di Mesir, berkesempatan mengunjungi National Museum of Egyptian Civilization (NMEC) di Kairo, Mesir. NMEC merupakan museum yang didirikan pada 2021 dan menjadi salah satu museum yang menampilkan perjalanan panjang peradaban Mesir, mulai dari masa Mesir kuno, era Koptik, masa Islam, hingga era modern.
Menariknya, fadli Zon menyampaikan bahwa museum dapat menjadi ruang untuk menampilkan perjalanan panjang sebuah peradaban sekaligus bagian dari ekosistem ekonomi budaya.
Usut punya usut, “Mesir telah menjadikan museum-museum ini sebagai bagian dari etalase budaya, etalase peradaban mereka, dan bahkan menjadi sumber dari ekonomi budaya,” kata Fadli Zon dalam keterangan tertulis, Kamis (23/9/2026).
Di tengah sorotan tersebut, museum ini diresmikan bersamaan dengan pelaksanaan *Pharaohs’ Golden Parade* atau pemindahan mumi Firaun dari museum nasional ke museum baru tersebut. Saat ini, jumlah pengunjung NMEC diperkirakan mencapai 10.000 orang setiap hari.
Berdasarkan penelusuran lebih jauh, “Aktivitas tersebut juga didukung dengan berbagai fasilitas dan kegiatan ekonomi, antara lain penjualan merchandise, adanya *coffee shop*, dan layanan lainnya,” ungkap Fadli Zon.
Tak hanya itu, dia menyampaikan bagian yang menjadi daya tarik khusus NMEC adalah koleksi mumi para Firaun, atau raja dan ratu Mesir dari berbagai dinasti, dengan jumlah keseluruhan mencapai ratusan raja dan ratu.
Di satu sisi, menurutnya, selain koleksi mumi, museum ini juga memperlihatkan berbagai teknologi yang saat ini dianggap baru, ternyata telah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Salah satunya terlihat melalui pameran tapestri atau tekstil.
Sementara itu, temuan tersebut, menurut Menbud, memperlihatkan perjalanan panjang peradaban Mesir sekaligus perkembangan pengetahuan dan teknologi yang telah berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Melalui pameran, perjalanan tersebut dihadirkan sebagai bagian dari pengalaman pengunjung dalam memahami sejarah peradaban Mesir.
Faktanya, pengelolaan museum yang terlihat di NMEC menunjukkan bagaimana perjalanan sejarah dan warisan peradaban dapat dikemas menjadi pengalaman budaya yang memiliki nilai ekonomi. Narasi peradaban yang mencakup perjalanan Mesir dari masa kuno hingga modern menjadi bagian penting dalam membangun daya tarik bagi pengunjung untuk datang ke museum.
Menariknya, melalui museum, sejarah tidak hanya disimpan dan dikonservasi, tetapi juga dihadirkan kepada masyarakat sebagai sebuah perjalanan peradaban. Dalam konteks tersebut, NMEC, menurut Fadli Zon, menjadi contoh bagaimana museum dapat berfungsi sebagai etalase budaya sekaligus bagian dari ekonomi budaya.
Usut punya usut, lebih lanjut, Fadli Zon menyampaikan pembelajaran dari kunjungan ke museum-museum di Mesir ini menjadi benchmark penting bagi Indonesia untuk melihat museum sebagai etalase peradaban, bukan semata-mata tempat menyimpan dan merawat koleksi. Menurutnya, museum harus mampu menghidupkan narasi perjalanan peradaban Indonesia, dari kekayaan warisan budaya di tingkat hulu hingga dapat dihadirkan sebagai pengalaman budaya yang bernilai ekonomi di tingkat hilir.
Di tengah sorotan tersebut, turut hadir mendampingi dalam kunjungan tersebut, antara lain Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti; Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda; Direktur Promosi Kebudayaan Wawan Yogaswara; dan Kepala Subdirektorat Hubungan Media Andhini Widyasari.
Berdasarkan penelusuran lebih jauh, dalam skema budaya di hulu dan ekonomi budaya pada hilirnya, transformasi, modernisasi, dan digitalisasi museum yang didorong Kementerian Kebudayaan telah diarahkan untuk memperkuat keterhubungan antara pelestarian, pemanfaatan, edukasi, apresiasi, hingga penciptaan nilai ekonomi budaya.
Tak hanya itu, “Museum tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi menjadi ruang yang menghidupkan kebudayaan, memperkuat identitas dan kebanggaan nasional, serta membuka peluang bagi tumbuhnya ekonomi budaya Indonesia,” tutup Fadli Zon.
Artikel asli dipublikasikan oleh Detikcom: Baca Sumber Asli